Makassar, 11 November 2008
Hari ini saya memulai aktivitas dengan hunting foto di bandara Sultan Hasanuddin dan pasar daya bersama teman saya, Sari. Hunting foto ini cuma untuk coba-coba saja. Siapa tahu foto kami terpilih untuk dipamerkan di pameran foto ulang tahun KIFO yang ke-19 pada tanggal 18 hingga 20 November nanti. Kami memulai perjalanan pada pukul 6 pagi. Dengan bermodalkan sepeda motor milik Sari, kami segera meluncur ke bandara. Setibanya di sana, kami langsung mengeluarkan kamera dan segera mencari objek menarik di sekitar bandara. Ini adalah pertama kalinya saya menginjak bandara baru itu. Tak terasa kami sudah mengelilingi hampir setengah dari bandara. Dan tak terasa pula, jam sudah menunjukkan pukul 7. Kami memutuskan untuk segera beranjak dari bandara.
Tujuan selanjutnya adalah pasar daya. Hanya satu kata yang cocok untuk pasar itu yaitu BECEK. Kami berjuang memasuki pasar dengan melewati jalan sempit dan becek. Kaki saya sempat terperosok ke dalam lumpur. Dan seketika, kaki saya berubah menjadi coklat kehitam-hitaman. Hunting kami di sana tak berlangsung lama. Kami pulang dengan membawa hasil foto yang nggak tahu pantas atau tidak buat dipamerkan.
Mandi. Itu adalah hal pertama yang ingin saya lakukan ketika sampai di rumah. Hari ini saya dapat panggilan untuk ke kantor SINDO pukul 10. Akhirnya, kami diterima juga setelah menunggu kepastian yang cukup lama. Hari pertama ini, kami diberi arahan-arahan untuk ke depannya dan nasehat oleh bang Iccang. Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari semua arahan dan nasehat itu. Bagaimana cara meliput yang baik dengan menggunakan fakta, data dan wawancara atau tentukanlah judul sebelum kita memulai untuk menulis. Semoga pelajaran yang diberi itu tak sesulit dengan praktek sebenarnya. Lalu, kami diberi tugas membuat catatan harian dan meliput kegiatan yang menarik dikampus.
Tak terasa hampir 2 jam kami berada di kantor SINDO. Tujuan berikutnya adalah kampus. Ada kuliah grafika dan penerbitan 25 menit lagi. Rasanya kita akan terlambat masuk soalnya jalanan macet di abdesir. Ternyata dugaan saya salah. Dosennya belum ada. Dan saya dan teman-teman memutuskan untuk makan siang dan shalat dzuhur dulu. Walhasil, saya masuk ke kelasnya terlambat. Pukul 14:30 kuliah selesai. Saya diminta oleh teman saya untuk meminta sumbangana seadanya ke teman-teman lainya. Sumbangan ini untuk membantu korban banjir di Palopo. Setelah puas meminta sumbangan, saya dan teman-teman bermain UNO. Permainan ini memang lagi digemari anak KOSMIK.
Waktunya pulang ke pondokan. Namun, ada ajakan makan dari seorang teman dirumahnya. Boleh lah diterima. Setelah itu, saya pulang ke pondokan dengan setumpuk pikiran akan pekerjaan yang saya lakukan kalau sudah tiba di kamar nanti. Sebelumnya, saya mampir ke warnet dea dulu. Buka email dan sedikit corat-coret akan pengalaman hari ini. Hampir satu jam di warnet dan rasa kantuk mulai menyerang. Saya pulang ke kamar dan segera menunaikan shalat isya lalu tertidur lelap disebelah tumpukan koran.
Film ini adalah kisah seorang gadis bernama Kim Su Jin (diperankan oleh Son Ye Jin) yang depresi ketika ia ditinggal oleh sang kekasih. Meski begitu, ia masih mendapat dukungan penuh dari ibunya agar ia tetap menjalani hidup. Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang calon arsitek bernama Choi CHul Soo (diperankan oleh Jeong woo Seong) dan akhirnya mereka saling jatuh cinta. Kehidupan setelah menikah menjadi kehidupan yang bahagia bagi mereka berdua. Namun, film ini dibumbui dengan pemeran utama wanita mengidap penyakit yang begitu parah yaitu alzheimer. Efek penyakit ini adalah si penderita akan mengalami hilang ingatan. Dan peristiwa yang belum lama atau baru saja terjadi pada dirinya akan dilupanya lebih dulu. Film ini betul-betul menyayat hati dan pas banget buat ditonton bareng-bareng.