Semua Tentang Kita

February 13, 2009

Februari…

Filed under: Hari-hari Koe — Lilies @ 5:26 AM

Ada apa di Februari??? Terlalu banyak yang menanyakan pertanyaan itu kepadaku, akhir-akhir ini. Saya memulai Januari ditahun 2009 dengan baik dan gembira, namun ketika melangkah maju ke Februari, banyak kejadian yang terlalu mengecewakan hati.

Meski kau dan dia bersahabat, tetapi kadang kala ada waktu dimana si dia akan bersikap egois akan sesuatu hal. Hal yang memang kalian berdua sangat mengimpikannya. Mungkin kata-kata inilah yang kemudian menyadarkanku akan kejadian kemarin, antara diriku dan sang sahabat. Fiuhh…tidak selamanya kita akan bersama dalam melakukan hal-hal yang indah. Kadang, kita harus mengorbankan diri demi yang lainnya.

Dan kesedihan itu telah aku lewati dengan lapang dada. Mencoba memahami, mengerti dan mengambil hikmah dari semua yang telah terjadi. Semoga aku tak seperti sang sahabat. Semoga aku bisa lebih baik darinya dalam hal membina persahabatan. Dengan sahabat-sahabatku yang lain tentunya.

SAHABAT…
MENGERTI SAAT KAMU BILANG “LUPA”
MENUNGGU SELAMANYA SAAT KAMU BILANG “TUNGGU SEBENTAR”
MENGUATKAN SAAT KAMU BILANG “AKU NGGAK SANGGUP LAGI”
DAN TERSENYUM SEBELUM KAMU BILANG “MAAFIN AKU YA???”
Bisakah aku menjadi sahabat yang seperti ini????

7 Comments »

  1. kamu pati bisa madam…
    seperti hebatnya dirimu membuat kata-kata inspiratif seperti itu

    hm….ungkapan yang sangat indah

    btw, ganti lagi “wajahnya” blogta’?

    Comment by ranes — February 16, 2009 @ 6:31 AM

  2. oh ya..
    selamat juga ya…
    dan terima kasih atas momen indah kemarin itu, terpatri kuat di hati dan membekas diantara zaman.

    selamat sekali lagi..!!!

    Comment by ranes — February 16, 2009 @ 6:34 AM

  3. Hmm… makasih kakak atas smua pujianx…

    hehehehe..ganti trus ya???hbis masih blm sreg dihati…

    Btw…momen indah kemarin itu???mksudx Kongres yah???

    Comment by Lilies — February 18, 2009 @ 3:44 AM

  4. iya kongres
    anak2 semua “all out”
    begitu juga penontonya…
    hehehee..

    Comment by ranes — February 18, 2009 @ 11:20 AM

  5. Hahahahahaha…iya yah…semua langsung pada eksis…

    Namax jg acara besar kak..sapa gt yang mau ketinggalan. Betul toh???

    Comment by Lilies — February 19, 2009 @ 7:29 AM

  6. ini ada sedikit dari blognya orang, mungkin lilies juga sudah lihat (siapa tahu)…

    Jurnalisme Kuning (yellow journalism)

    Pernahkan Anda menjumpai judul-judul berita yang bombastis, tetapi setelah dibaca isinya tidak substansial? Misalnya, “Suami Bantai istri di depan Anak”, “Kemaluan Tiga Pelaku Pengeroyokan Disundut Rokok”, “Mata Perampok Ojek Dicongkel Massa”, “ Gara-gara Ingin Memiliki Sepeda Motor; Pelajar Gorok Leher Teman”, “ Malu Melahirkan Hasil Hubungan Gelap: Wanita Patahkan Kaki Bayi”. Ini beberapa judul berita yang berasal dari media cetak yang pernah terbit di Jakarta.
    Diantara judul-judul itu ada kesamaan. Kasus yang sedang dibahas ditulis dengan hiperbola. Seolah terkesan seram, angker, sadis, kejam dan semacamnya. Misalnya pilihan kata “dibacok”, “digorok”, “tewas terpanggang”, atau “mata dicongkel”. Padahal bisa jadi tidak seperti itu kenyataannya. Bisa jadi juga seseorang tewas biasa, tetapi kalau sudah masuk konstruksi berita media cetak seperti itu judul menjadi masalah lain. Dengan kata lain, ada sesuatu yang dibesar-besarkan untuk menarik perhatian pembaca.
    Contoh-contoh judul di atas biasanya melekat pada media yang dijuluki jurnalisme kuning (yellow journalism). Ciri khas jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pembuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu,: agar masyarakat tertarik. Setelah tertarik diharapkan masyarakat membelinya. Ini sesuai dengan psikologi komunikasi massa. Orang akan tertarik untuk membaca atau membeli koran, yang diperhatikan pertama kali adalah judulnya. Apalagi judul-judul yang dibuat sangat bombastis. Bahkan untuk menarik perhatian pembaca, judul-judul yang dibuat ditulis secara besar-besaran dengan warna yang mencolok dan tak jarang disertai dengan gambar yang sadis.
    Jurnalisme kuning adalah jurnalisme pemburukan makna. Ini disebabkan karena orientasi pembuatannya lebih menekankan pada berita-berita sensasional dari pada substansi isinya. Tentu saja, karena tujuannya untuk meninngkatkan penjualan ia sering dituduh jurnalisme yang tidak profesional, dan tak beretika. Mengapa? Karena yang dipentingkan adalah bagaimana caranya masyarakat suka pada beritanya. Perkara ia diprotes oleh kalangan tertentu tidak akan bergeming. Perkara isinya tidak sesuai dengan fakta yang terjadi, itu soal nanti.
    Jika ditinjau sejarahnya, istilah jurnalisme kuning muncul pada tahun 1800-an. Jurnalisme kuning muncul ditandai dengan “pertempuran headline” antara dua koran besar di kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer (New York World) dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst (New York Journal). Persaingan ketat itu terjadi pada tahun 1895 sampai tahun 1898. Kedua surat kabar tersebut dituduh telah menyebarkan berita sensasional untuk mendongkrak sirkulasi.
    Sementara itu, istilah jurnalisme kuning sendiri diberikan oleh The New York Press pada awal tahun 1897. The New York Press memang tidak mendefinisikan mengapa ia mengatakan koranya Pulitzer dan Hearst dengan jurnalisme kuning. Yang mereka ucapkan hanyalah “Kita menyebut mereka kuning karena mereka kuning (warnanya)”. Ada juga yang menyebutnya bahwa istilah jurnalisme kuning diberikan karena harganya murah meriah. Dalam istilah jurnalisme disebut dengan penny press (koran satu sen). Ada sementara yang mengatakan, yellow journalism dikatakan demikian karena mengambil nama yellow kid (salah nama tokoh dalam gambar sebuah komik di Amerika).
    Ceritanya pada tahun 1882 Joseph Pulitzer membeli The World. The World akan dibuat menjadi bacaan yang menghibur. Karenanya, isinya berupa gambar, permainan (games) dan yang menghibur lain. Tidak itu saja, berita-berita kriminal juga mengisi mayoritas halaman. Headline dibuat semenarik mungkin. Misalnya, “Apakah dia Seorang Pembunuh?”, ”Jeritan memelas”. Dan lagi, Pulitzer hanya membebankan kepada pembaca hanya 2 sen saja.
    Dua tahun sejak Pulitzer mengambil The World, koran itu telah menjadi media yang punya sirkulasi paling tinggi di New York. Penerbit koran yang lebih dahulu terbit (sebelum The World) dan sebelum Pulitzer sukses mulai mengkritik The World. Mereka mengatakan kalau The World koran yang mengancam jurnalisme dengan hanya menyajikan “selera rendah”. Pembaca hanya disuguhi cerita-cerita kriminal dan hal yang tidak subtanssial. Charles A Dana, editor The New York Sun, menyerang The World dan mengatakan Pulitzer sebagai orang yang tak layak sebagai jurnalis dan membahayakan bagi masyarakat.
    Tetapi apa yang dilakukan Pulitzer membuat kesan tersendiri pada diri William Randolp Hearst. Ia adalah ahli San Franscisco Examiner. Ia kemudian mewarisi dari ayahnya pada tahun 1887. Sambil belajar di Harvard University, Hearst sering membaca dan mengamati gaya penulisan yang disajikan The World. Kemudian, ia tertarik untuk meniru The World pada Examiner. Di bawah kepemimpinannya, Examiner meneydiakan 24 persen halamannya untuk berita kriminal. Disamping itu, menyajikan cerita-cerita permainan moral, dan menampilkan apa yang disebut dengan ketelanjangan dan perzinahan (khas standar abad 19). Bahkan ditempatkan di halaman mukanya. Ia ingin menjadikan Examiner sesukses The World.
    Setelah sukses dengan Examiner, pada tahun 1890 Hearst melirik surat kabar di New York. Akhirnya, ia membeli New York Journal pada than 1895. Sebagai koran yang tumbuh di New York (dan di kota itu sudah ada The World) ia menjadikan koran New York Journal sebagai koran yang sangat murah. Dari sinilah muncul istilah penny press (koran satu sen) untuk menyebut koran yang mengumbar kriminalitas yang juga sering disebut dengan jurnalisme kuning itu.
    Hearst mengambil langkah berani dengan hanya menjual The New York Jounal 1 sen saja, sementara The World harganya 2 sen. Bahkan dengan harga 1 sen, The New York Jounal menyajikan lebih banyak informasi. Hasilnya cukup sukses. Sirkulasi Journal menembus angka 150.000 eksemplar. Kesuksesan Journal ini membuat Pulitzer ikut menurunkan harga The World menjadi 1 sen juga. Sebuah kebijakan baru dilakukan Hearst pada tahun 1896. Ia menjanjikan wartawannya gaji yang banyak jika bekerja secara baik. Jadilah persaingan ketat antara The World dengan The New York Journal yang disebut juga persaingan antara Joseph Pulitzer dengan William Randolp Hearst
    Salah satu ciri jurnalisme kuning adalah sajian hari Minggu yang penuh warna, dan banyak komik. Bahkan berita yang disuguhkan bisa cerita rekaan semata. Ini misalnya yang dilakukan Pulitzer dan Hearst. Mereka mengarang cerita tentang perang Amerika-Spanyol. Bahkan ada cerita yang dilebih-lebihkan tentang seorang artis. Frederic Remington adalah orang yang pernah menjadi korban Hearst. Remington pernah menelegram Hearst untuk memberitahunya bahwa “Tidak akan ada perang”. Tetapi, Hearst merespon, “Silakan ingatkan. Kamu melengkapi gambar dan saya akan melengkapi perang”.
    Jika kita mengacu pada definisi dan sejarah jurnalisme kuning tersebut di atas, maka surat kabar Pos Kota (Jakarta), Memorandum (Surabaya) termasuk dalam jurnalisme kuning. Bukan pada harganya, tetapi lebih pada reportase yang menampilkan banyak gambar, judul-judul yang bombastis, penuh dengan kriminal, cerita bergambar, cerita dunia khayal. Yang jelas, jurnalisme kuning seperti itu konsumennya adalah kalangan menengah ke bawah yang tingkat pendidikannya tidak tinggi. Coba Anda lihat bagaimana Pos Kota laku keras di kalangan sopir angkutan, bis, penarik becak dan tukang ojek? Sementara itu, di kalangan terdidik koran-koran itu tidak diminati.
    (Sumber: Buku Nurudin, Jurnalisme Kontemporer, segera terbit, 2009).

    Comment by ranes — February 21, 2009 @ 12:05 AM

  7. Wah..makasih banyak y kak atas info dan bantuannya…

    Thanks a lot deh pokokx….(^_^)

    Comment by Lilies — February 21, 2009 @ 1:27 PM


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.