Namanya Lilies Badriyah Mahmud. Ia lahir ditengah keramaian kota Bau-Bau pada tanggal 12 September 1988. Sebelas tahun ia menapaki pulau Buton, tapi ia masih tak mampu beradaptasi dengan semua yang berhubungan dengan pulau itu. Saat kecil, ia termasuk anak yang dibatasi pergaulannya. Terkungkung dalam sebuah rumah berpagar hijau, yang kini menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Boleh dikata, hidupnya hanya untuk rumah dan sekolah Tak ada sosialisasi ekstra dengan orang-orang sekitar rumahnya. Meski begitu, ia dikenal baik dimata para tetangganya. Mungkin karena ia pernah mengukir prestasi disana.
Ajaibnya, ia diberi izin oleh orang tuanya untuk melanjutkan sekolah menengah pertama di luar Sulawesi. Merantaulah ia ke Indramayu. Satu kabupaten di pesisir Jawa Barat, yang ditengahnya berdiri kokoh bangunan – bangunan megah layaknya apartemen. Sekolah itu bernama Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun. Semua tes yang diberikan dapat ia lewati dengan mulus. Mulai tes hafalan juz 30, wawancara hingga tes ilmu pengetahuan. Ia menangis ketika melihat namanya dipapan pengumuman kelulusan. Sebenarnya, tangisan itu adalah bentuk kekecewaan, bukan tangisan bahagia. Mengapa ia lulus? Ia masih belum menerima sepenuhnya bahwa ia akan meninggalkan keluarga tercinta. Hidup sendiri dan musti mandiri. Hanya lima tahun ia bertahan disana. Bukannya ia tak betah, tapi orang tua meminta untuk pulang. Satu tahun cukup bagi orang tuanya untuk melepas rindu. Karena setelah ia lulus SMA, ia akan merantau kembali. Ia akan meninggalkan banyak kenangan di pondok pesantren itu, pikirnya. Setengah hati ia melangkah menuju gerbang malam itu. Malam, tanggal 11 Juni 2005, dimana esoknya sang sahabat akan merayakan hari kelahirannya. Sungguh, ia tak bermaksud menyakiti hati sang sahabat. Ia tak tahu.
Kini, ia tengah menempuh S1 di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin. Banyak angan telah tercipta disana. Angan yang tak sengaja tercipta kala ia masih menginjak semester dua. Semoga angan itu terwujud nantinya. Segera.
Pikirnya, kadang kita perlu menyendiri dalam kurun waktu yang lama, sekalipun kita tak pernah merasakan kesendirian disekitar kita. Baginya, kesendirian adalah kebiasaan. Lebih dari separuh usia, dia melakoni hidup ini sendirian. Mondar-mandir pulau Jawa-Sulawesi sendirian menjadi satu rutinitasnya yang tak pernah absen. Mulai ia menginjak bangku sekolah menengah pertama hingga menjelang kelulusan sekolah menengah atas. Lalu, ia berjuang sendirian beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru dan kota tempat tinggalnya. Banyak yang berubah setelah lima tahun ia tinggalkan.
Kesendirian mengajarkannya kemandirian. Hidup sendiri diperantauan membuatnya lebih bijak dan dewasa memaknai hidup. Jika masih bisa dilakukan sendiri, mengapa mengharapkan orang lain untuk mengambil alih? Kini, ia pun masih sendiri. Bahkan ketika menulis rangkaian kata ini. Ia masih bisa menjadikan kesendiriannya menjadi suatu kemandirian. Namun, kesendiriannya sudah tak lagi menjadi rutinitas. Terlalu banyak pasang mata memperhatikan gerak-geriknya. Hingga ia tak bisa lari kemana-mana. Untungnya, ia bisa antisipasi semuanya. Masih banyak hari untuk atasi rindu akan kesendiriannya, pikirnya.
Salam kenal bro dari Aceh
Comment by hananan — September 23, 2008 @ 9:07 AM